Posted on


ILUSTRASI. Pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

LINDAVIDALA.COM – JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengantisipasi fluktuasi harga nikel yang berpotensi masih terjadi pada tahun ini dengan mengoptimalkan produksi.

Chief Financial Officer (CFO) INCO Bernardus Irmanto mengungkapkan, langkah antisipasi ini hampir sama dengan yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun lalu.

“Langkah antisipasinya masih sama, dengan mengoptimalkan produksi dan juga mengendalikan biaya,” kata Bernardus kepada LINDAVIDALA.COM, Jumat (5/3).

Dia menambahkan, hingga tutup tahun 2021, produksi nikel INCO diproyeksikan ada di kisaran 64.000 ton

Target ini lebih rendah dari realisasi tahun lalu. Di mana, angka produksi nikel di 2020 mencapai 72.237 ton, sedangkan volume penjualan sebanyak 72.846 ton. “Karena kami akan membangun ulang salah satu furnace yang ada,” jelas Bernardus.

Sebelumnya, anggota indeks Kompas100 ini, seharusnya memulai proyek tersebut pada Mei dan rampung pada November tahun ini. Tapi, material proyek dan tenaga ahli dari luar negeri telat didatangkan akibat dampak pandemi Covid-19.

LINDAVIDALA.COM mencatat, INCO menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar US$ 130 juta tahun ini. Sebagian besar capex digunakan untuk rebuild EF#4, pengembangan infrastruktur tambang, dan peremajaan alat.

Baca Juga: Pembangunan ulang tungku elektrik mundur, analis tetap rekomendasikan saham INCO

EF#4 sejatinya tidak sepenuhnya berhenti beroperasi. Namun, tenaga atau power fasilitas tersebut saat ini tidak bisa melebihi 60 megawatt (mw).

Sementara itu, merujuk laporan keuangan INCO mencatat mencatatkan penjualan sebesar US$ 764,7 juta di tahun 2020. Realisasi ini 2% lebih rendah dibandingkan penjualan yang tercatat tahun 2019, yakni sebesar US$ 782,0 juta.

Adapun, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 82,82 juta, naik 44,28% dari laba bersih tahun sebelumnya yang hanya US$ 44,28 juta.

“Beban pokok penjualan di tahun 2020 lebih rendah dibanding 2019 karena penurunan harga komoditas minyak dan batubara dan juga inisiatif inisiatif efisiensi yang lain. Ini yang menyebabkan kenaikan profit perusahaan,” sambung Bernardus.

Dia melanjutkan, fluktuasi harga nikel masih berpotensi terjadi berkaca dari kondisi yang ada khususnya dalam dua hari terakhir. Bernardus menilai pasar merespon dengan sangat dinamis kondisi suplly dan demand yang ada.

Ia mencontohkan, ketika dua tambang milik perusahaan asal Rusia MMC Norilsk Nickel PJSC dikabarkan terendam banjir, harga komoditas naik drastis.

“Ketika ada berita bahwa masalah tambang bisa diatasi dan juga adanya perkembangan pabrik pengolahan NPI menjadi matte, harga nikel turun cukup tajam pula,” pungkas Bernardus.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di LINDAVIDALA Store.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *