Posted on


ILUSTRASI. Papan elektronik yang menunjukkan informasi IPO Big Hit Entertainment di Korea Exchange di Seoul, Korea Selatan, 15 Oktober 2020. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Sumber: AP | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

LINDAVIDALA.COM – SEOUL. Diwarnai beragam krisis akibat pandemi Covid-19, Korea Selatan mengalami penyusutan ekonomi yang parah pada 2020 lalu. Bank sentral Korea Selatan bahkan menyebutnya sebagai yang terburuk dalam dua dekade.

Laporan bank sentral Korea Selatan pada Kamis (4/3) menyebutkan, ekonomi negeri ginseng untuk pertama kalinya menyusut dalam 22 tahun terakhir. Pandemi secara langsung menghambat pekerjaan industri jasa dan menekan pengeluaran konsumen.

Dilansir dari AP, data awal yang dirilis oleh bank sentral Korea Selatan menunjukkan, PDB negara itu tahun lalu mengalami kontraksi 1%.

Meski terlihat kecil, kontraksi tersebut merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak krisis keuangan 1998 yang ketika itu melumpuhkan Korea Selatan.

Jika tidak karena ekspor produk teknologi yang cukup tinggi, Korea Selatan diprediksi akan mengalami kontraksi ekonomi yang lebih buruk tahun lalu.

Baca Juga: 2 Orang meninggal setelah terima vaksin AstraZeneca, Korea Selatan mulai penyelidikan

Peningkatan aktivitas di rumah untungnya mendorong peningkatan permintaan produk komputer dan server pribadi. Hal ini berhasil dimanfaatkan dengan cukup baik oleh sejumlah perusahaan teknologi Korea Selatan.

Bank sentral berharap ekonomi Korea Selatan bisa mencapai pemulihan ke level moderat tahun ini. Tentunya, masih mengharapkan pada kemampuan ekspor.

Sayangnya, capaian itu diprediksi akan memakan waktu yang cukup lama. Kecepatannya akan bergantung pada seberapa cepat industri jasa, seperti restoran dan transportasi, pulih dari kerusakan akibat krisis sepanjang tahun lalu.

Bank sentral Korea Selatan sejak Maret tahun lalu telah mempertahankan tingkat kebijakannya pada level terendah sepanjang masa di 0,5% demi membantu perekonomian negara.

Para ahli keuangan beranggapan, instrumen bantuan tradisional seperti itu hanya memiliki efek terbatas selama pandemi, yang akhirnya merusak penawaran dan permintaan.






Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *